Langsung ke konten utama

Ketika Mimpi itu Menjadi Nyata

Permulaan menulis setelah berbulan-bulan lamanya fakum. Mungkin saat ini dengan situasi dan kondisi berbeda. Yang tadinya ngeluangin waktu cuma "klw sempat" dan sekarang mencoba untuk menulis "klw lg duduk". Sedikit cerita sekarang saya adalah seorang mahasiswi yang berasal dari universitas terbaik sumatera. Maaf jika sedikit melebih-lebihkan. Saya cukup bangga dengan tempat yang nantinya akan membuat khayalan tentang mimpi itu menjadi nyata. Tempat yang nantinya akan menjadi saksi bahwa si pemimpi ini mampu menghidupkan mimpinya. Tempat yg nantinya akan menjadi sejarah bahwa perjuangan,  kerja keras, air mata dan sedikit rengekan ini tiada sebanding dengan hasil yang sudah didapat. Yah dari tempat inilah mimpi itu terasa nyata ...

(Gedung Rektorat Universitas Sumatera Utara)

Dulu gak pernah kefikiran apalagi mimpi untuk masuk kesini. For the first time nginjakin kaki disini, ada sedikit pembicaraan dengan hati. kira-kira seperti ini
"wahhhh!! jadi ini usu. jadi ini universitas terbaik sumatera. pingin sih masuk sini. pingin sih jadi satu diantara orang-orang hebat yang berhasil ngalahin beribu pesaing. pingin sih dan blablabla"
Waktu itu sore hari, saya berjalan dengan beberapa teman dengan kami yang begitu polosnya berkata sanggup untuk mengitari tanpa tahu betapa luasnya universitas ini. Pada awalnya beberapa fakultas terlewati dengan sempurna dan pada akhirnya kami menyerah. Sungguh waktu itu adalah hari terlelah yang pernah saya alami. 

Beberapa waktu berlalu dan untuk yang kedua kalinya saya menginjakan kaki disini adalah ketika mengikuti ujian SBMPTN. Kala itu usu bukanlah satu diantara tempat pilihan saya. Masih teringat, saya yang begitu PD nya menempatkan pilihan di universitas jawa dengan persiapan yang sangat  minim dan tentu saja hasil tak akan mengkhianati. Saya gagal bahkan dengan pilihan universitas dengan passing grade terendah. Tidak ada air mata yang keluar karena saya pantas mendapatkannya.

Untuk yang ketiga kalinya adalah ketika mengikuti UMB-PT. Kali ini hati saya luluh dan mencoba keberuntungan di universitas sumatera utara ini. Kali ini tentunya dengan persiapan. Mungkin belum terlalu maksimal, tp saya sangat percaya diri sekali kala itu. 
Dan pada saat pengunguman tiba, saya tidak terlalu gelisah. Saya sudah berhasil mengontrol hati dan berkata bahwa semua baik-baik saja. Tapi ... yah sepertinya keberuntungan memang belum berpihak. Saya gagal kembali dan mencoba tegar. Sebisa mungkin menyembunyikan diri tanpa sadar air mata sudah membasahi pipi. Tapi tidak membutuhkan waktu lama untuk menghapus air mata itu. Karena hidup harus terus berjalan dan saya harus bangkit dari keterpurukan ini.

Hari-hari berlalu dan tanpa sadar sudah nyaris sebulan saya menganggur. Merasa kecil dan rasanya ingin menghilang ketika ada yang bertanya "uyun kuliah dimana?". Sebisa mungkin mencoba terbiasa dengan pertanyaan ini. Awalnya susah tapi Alhamdulillah saya bisa melewatinya. 

Sewaktu-waktu seorang teman menghampiri dan menawarkan sebuah peruntungan (lagi?). Ajakan untuk mengikuti Ujian SPMPD ditempat yang kemarin sudah menolak saya untuk yang kedua kalinya (UMB-PT & SNMPTN). Saya tersontak dan tentu saja tanpa berfikir panjang saya mengiyakan dan bergegas untuk mengurus semua keperluan. Waktu itu adalah hari terakhir pendaftaran. Masih teringat betapa paniknya saya kala itu. Tapi Alhamdulillah hari ini terlewati dengan sangat baik dan saya sangat bersyukur karena Allah masih memberikan kesempatan untuk kuliah di universitas negeri walaupun saya gak tau gimana hasil akhirnya nanti. 

Hari ujian pun tiba, Saya bisa lebih santai tanpa beban. Saya bisa mengerjakan hampir seluruh soal ips, b.indo, dan b.ing tp sedikit mengecewakan saya hanya berhasil mengerjakan satu soal madas. Hanya bisa berserah dan menyerahkan segala keputusan kepada sang maha pencipta. Jika kali ini saya gagal (kembali) mungkin saya masih bisa menyembunyikan kekecewaan ini, tp kala itu ada seseorang yang sedang berharap lebih. Mama ..... :)

(Hari pengumuman 19 Agustus 2015)
Sudah tidak ada lagi kegelisahan bahkan saya sudah siap lahir batin jika nantinya tertulis kata "maaf" dengan latar belakang merah. Saya sudah siap untuk itu, tapi lagi-lagi melihat mama dengan sorot mata pengharapannya membuat hati terenyah dan rasanya pingin nangis. Walaupun begitu beliau tetap meyakinkan saya dan kami berdua sudah siap dengan segala kemungkinan yang akan terjadi. Saya mengetikan nomor pendaftaran dan Waaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!! Kebahagian pecah diikuti isakan air mata bahagia. Saya LULUSSSSSSSSSSSS!!!! Saya MABA USU!!!!!!! Saya akan berkuliah di universitas terbaik di sumatera ini!!!!!!! Waaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!!!!!!


Begitulah sedikit kehisterisan yang terjadi. Saya, mama, ayah, dan abang saling berpelukan dan rasanya lega sekali setelah sebulan lebih berkelut dengan pelajar ips karena aslinya saya adalah anak ipa sewaktu SMA. Dan untuk yang kesekian kalinya saya mengucap syukur kepada Allah atas semua rezeki yang ia limpahkan. Kerja keras dan air mata terbayar lunas :')

Disini .... Ditempat ini ....
Dengan Almamater Hijau Tua 
Dikampus megah hijau yang tertata rapi
Difakultas elit yang mampu melahirkan orang-orang hebat ...
Fakultas Ekonomi dan Bisnis 
Menjadi Seorang Akuntan untuk beberapa tahun kedepan
Saya siap untuk memulai membuat mimpi itu menjadi nyata..
Dan mimpi itu dimulai dari sini ....





(Taman Rekreasi USU)
(D-III Akuntansi'15 USU)
(Rekan Satu Stambuk bersama Para Senior)

Begitulah perjuangan yang sudah berhasil saya lalui. Saya pernah gagal dan bangkit kembali. Saya bukan orang pintar tapi saya masih diberikan kesempatan untuk mendapatkan ilmu pengetahuan dari pengajar-pengajar terhebat di sumatera ini. Saya bukan orang hebat tapi saya mencoba untuk menjadi yang terbaik. Saya bisa karena Allah selalu beserta dan semua usaha tak akan mengkhianati. Sekian ^^


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ia Dia

Perempuan itu rentan. Ia merasa apa yang seharusnya tidak ia rasakan. Ia melakukan hal yang ia tahu akan sakit pada akhirnya. Ia mencoba untuk biasa seakan tak ada yang terjadi. Ia hanya terlalu hanyut akan perasaan, terlalu sensitif bahkan untuk hal yang tak perlu. Suatu ketika, ia merasa sombong akan sesuatu. Merasa bahwa miliknya takkan pergi, merasa bahwa ia pemenang akan segala. Begitulah sampai ia menyadari bahwa ia tak berhak atas apapun. Bahwa semua akan kembali. Kembali atas ujung atau bisa kita sebut takdir. Sempat ada perasaan ingin bermain. Melihat kebelakang dan sejenak istirahat. Mengingat bahwa rasa nyaman dan biasa telah melekat. Merasa bahwa tak ada salahnya mengenang. Tersadar akan hal bodoh, bahwa ketika memulai semua takkan kembali. Bahwa ketika rasa percaya terkhianati ia akan pergi. Ketika kembali kepada diri, perempuan itu membayangkan hal yang sama ketika ia menjadi dia. Merasakan sakit teramat dan hati itu takkan bisa pulih setelah ia hancur. Tentang masa l...